Internasional

Trump Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tidak Dibuka

×

Trump Ancam Serang Pembangkit Listrik Iran Jika Selat Hormuz Tidak Dibuka

Sebarkan artikel ini
Presiden AS Donald Trump. (ist)

Presiden Donald Trump kembali melontarkan ancaman terhadap Iran. Ia menyatakan akan menyerang berbagai infrastruktur sipil, seperti pembangkit listrik dan jembatan, jika Selat Hormuz tidak segera dibuka. Bahkan, Trump menyebut serangan itu bisa dilakukan dalam waktu dekat.

Mengutip Al Jazeera, Senin (6/4/2026), Trump memberikan ultimatum agar Iran membuka kembali jalur vital tersebut sebelum tenggat yang telah ia tetapkan. Jika tidak, ia mengancam akan menghancurkan fasilitas penting yang menopang kehidupan sipil di Iran.

Ancaman itu disampaikan melalui unggahan di media sosial dengan bahasa yang keras. Ia bahkan menegaskan kembali niatnya untuk melumpuhkan infrastruktur utama di Iran. Dalam pernyataannya, Trump menyebut akan menjadikan hari berikutnya sebagai momen serangan terhadap pembangkit listrik dan jembatan di negara tersebut.

Sebelumnya, pada 26 Maret, Trump memberikan batas waktu 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz—jalur penting bagi distribusi energi dunia. Aktivitas pelayaran di kawasan itu terhenti sejak konflik memanas setelah serangan awal yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari.

Trump juga mengungkapkan kepada Fox News bahwa saat ini Iran tengah melakukan negosiasi dengan pihak AS. Ia mengaku optimistis kesepakatan bisa tercapai sebelum tenggat waktu berakhir.

Namun, ancaman tersebut langsung mendapat respons keras dari Iran. Perwakilan Iran di Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam pernyataan Trump yang dinilai mengancam infrastruktur vital bagi kehidupan warga sipil. Mereka menilai tindakan tersebut berpotensi menjadi kejahatan perang dan mendesak komunitas internasional untuk segera bertindak.

Sementara itu, Seyyed Mehdi Tabatabaei dari kantor presiden Iran menyatakan bahwa Selat Hormuz hanya akan dibuka kembali jika ada kompensasi atas kerusakan akibat perang. Ia menjelaskan bahwa Iran mempertimbangkan penerapan sistem baru, di mana kapal-kapal yang melintas akan dikenakan biaya, bahkan setelah konflik berakhir.

Tabatabaei juga menilai pernyataan Trump sebagai bentuk keputusasaan, dengan menyebutnya sebagai ungkapan emosional yang sarat kemarahan.

Di sisi lain, serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel dilaporkan telah menyasar berbagai fasilitas sipil, termasuk jembatan, sekolah, layanan kesehatan, hingga kampus. Sejumlah pakar menilai bahwa serangan terhadap objek-objek tersebut berpotensi melanggar hukum internasional.

Meski ketegangan terus meningkat, Trump belum memberikan kepastian terkait kapan konflik akan berakhir. Ia hanya menyatakan akan menyampaikan hal tersebut dalam waktu dekat. (mr)